Indonesia Memanas (?)

Wednesday, February 15, 2017



Tiga bulan belakangan ini Indonesia lagi panas-panasnya. Bukan panas karena suhu udaranya, melainkan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi di negeri kita tercinta ini. Permasalahan yang membawa Indonesia di ambang perpecahan, based on my point of view.

Diawali dengan bapak yang berinisial A yang dengan gampangnya dan penuh kesadaran berpidato di depan public dengan menyinggung ayat dari kitab suci orang lain. Yang sebenarnya enggak etis dia bahas di dalam pidatonya tsb. Mau dianalisis pake teori apapun sih menurut aku ya si bapak ya emang salah.
Pidatonya berbunyi: "Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu, nggak milih saya karena dibohongi pake Surat Al Maidah 51  macam-macam itu. Itu hak Bapak Ibu. Kalau Bapak Ibu merasa nggak bisa pilih karena takut masuk neraka, dibodohin, begitu, oh nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi Bapak Ibu," katanya. Kalau di telaah sih udah dapet kan kata kuncinya?

"Dibodohin"

 Kata tsb adalah kata untuk kalimat pasif. Seperti yang kita ketahui, makna dibodohin berujuk pada adanya pelaku yang membodohin dan korban yang dibodohin. Dari sini aja kita udah bisa menarik kesimpulan bahwasanya si bapak telah berkata yang menyinggung perasaan ummat Muslim. Jangan heran kalau  ummat Muslim tidak terima dan wajar marah akibat perilaku si bapak pejabat tsb. Lagi pula dia sebagai pemeluk agama lain berani-beraninya berbicara tentang hal yang bukan agamanya. Wah luar biasa. Katanya sih dia pernah sekolah di SD Islam, klise banget ni.

Enggak di Facebook, Twitter, bahkan Instagram Story sekalipun orang-orang pada masih ngomongin ini. Kalo cuma diomongin sih ya enggak apa-apa menurutku. Itu artinya masih banyak yang peduli tentang apa yang terjadi di negeri ini. Tapi ini enggak, malah komen-komenan yang berujung dengan perdebatan yang mencela opini masing-masing. Ya, ujung-ujungnya yang awalnya temenan eh malah renggang perkara debat kusir di Facebook. Hm.. beropini sih ya boleh-boleh aja tapi ya tau batasan juga. Ngomongnya juga ya pake etika, jangan main ceplas ceplos aja, pake nyindir plus nyinyir apalagi pake makian. Kalo udah tau beda, ya enggak usah nimbrung kan bisa. Tentang toleransi perbedaan agama di Indonesia, aku yakin banyak dari kita yang punya temen beda suku maupun agama masih bisa baik-baik aja hubungannya. Cuma kadang-kadang hal ini diperuncing dengan debat kusir yang enggak penting di sosmed dari orang asing yang tiba-tiba nimbrung melontarkan caci makian yang enggak bertanggung jawab. Jadi menurut aku kalo kita emang generasi yang berpendidikan apalagi sampe mengecap bangku perkuliahan yang orang-orangnya variatif banget, enggak perlu lah ikut debat kusir yang enggak bermakna. Yang ada malah memperburuk keadaan. Yang penting kita fokus sama keyakinan kita dan enggak mengusik keyakinan orang lain, tetap saling menghargai, saling bekerja sama, saling tolong menolong buat Indonesia yang emang udah kodratnya berbeda-bed
Terlepas dari apa sebenernya maksud si bapak berbicara hal yang sangat memungkinkan membuat hati panas karena ucapannya, para ummat Islam membuat aksi 411, 212, dan yang terakhir 112. Banyak juga ni yang beropini macem-macem perihal ini. Ada lah yang bilang bodoh, enggak punya kerjaan, bahkan bilang kalo ummat Islam radikal, terlalu membesar-besarkan masalah, enggak pemaaf lah dll. Menurut aku sih aksi-aksi kayak gitu ya sah-sah aja. Toh itu kan bentuk dari demokrasi, apalagi ini negara demokrasi dan aksinya aksi damai pula. Wajar juga kalo banyak orang yang tersinggung dengan perkatannya dan meminta keadilan. Tapi masih ada aja yang beranggapan demo itu pembodohan. Heran, itu yang bilang pernah belajar PKn enggak sih pas SD? Bahkan yang koar-koar bukan yang non Islam aja, malah banyak juga Muslim yang beranggapan sama. Ini masalah hati nurani, makin kesini kok malah rasa persaudaraan satu aqidah makin melemah. Payah kalo hati nuraninya udah ketutup. Enggak tau sih apa mereka sebenernya mengidolakan si bapak atau enggak. Tapi kalo memang iya, ya yang salah tetap salah bukannya malah dibelain mati-matian gitu malah sampe fitnah dan memboykot pihak lain gitu. Susah emang buat orang-orang yang hatinya udah ketutup untuk melihat ini semua dari sisi orang yang ikut aksi bela agama. Bahkan ada yang ngerasa enggak masalah dengan perkataan si bapak dan berdiri di pihak si bapak A tersebut. SMH.

Aku pribadi sih setuju kalau kelakuan si bapak ini harus ditindak lanjut sampe tuntas biar kasus ini enggak kejadian lagi ke depannya. Sekalian biar jadi pelajaran buat si bapak dalam berkata-kata supaya enggak ngelakuin kejadian serupa. Apalagi udah jadi pejabat, ya lisannya harus dijaga juga.

Ada yang lebih anehnya lagi, keributan tentang perbedaan agama ini baru muncul ketika entah siapa yang membuat isu SARA di Indonesia menjadi topik utama.

Men, look at this.











P.S: By the way thank you for reading my point of view, comment below in the comment section. If you disagree, don't leave a rude comment pls. Bonne nuit tout le monde!








2 comments:

  1. I can see why you disagree with this, everyone has a right to give their opinion, i my self dont really give much thought on it until i read this blog. It reminds me on something though, sufi saying:
    "Before you speak, let your words pass thru 3 gates,
    At the first gate ask urself 'is it true?'
    At the second gate ask,'is it necessary?'
    At the third gate ask, 'is it kind?'

    ReplyDelete
    Replies
    1. I gave much effort on this thought because i think it's a must that i must tell people that me, myself in this side because of what i've told above. i want that everyone understands what the opposite thought about.

      Delete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS